SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Tips Mencari Profesor Untuk Beasiswa ke LN
December 26th, 2009 by tatok

Banyak juga pertanyaan tentang bagaimana caranya mencari Profesor.

dari beberapa tulisan yang saya baca, umumnya bisa berbeda-beda caranya, tergantung juga faktor keberuntungan, ada yang kenal dengan Profesor ketika di suatu konferensi, ada yang kenal lewat internet, ada juga yang dikenalkan oleh seniornya.

Beberapa artikel menyarankan untuk tidak langsung mengemukakan bahwa kita ingin mencari profesor untuk syarat mencari beasiswa, tapi dari pengalaman saya, beberapa kali saya langsung menceritakan bahwa saya ingin mencari profesor untuk mendaftar beasiswa X, dan ternyata sang Profesor merespon dan bersedia memberikan Letter of Acceptance (LoA).

Beberapa tulisan menyarankan untuk mempelajari dulu bidang si Profesor, tapi pengalaman saya pernah juga saya kirim ke banyak profesor ada juga satu dua yang merespon dengan baik, dari 50 Profesor barangkali hanya satu yang merespon, tapi bukannya satu sudah cukup :D

namun yang saya setuju adalah persiapan kita akan bahasa (IELTS atau TOEFL) dan Proposal Riset.

Beberapa beasiswa bahkan tidak perlu menuliskan profesor dan proposal risetnya (bahkan dulu bisa tanpa TOEFL) seperti beasiswa AUNSeed NET

berikut ini saya rangkum pedoman mencari beasiswa dari teman saya Dr. Sony SW (Sipil ITB) dan Dr. Dhani (TF ITS) yang mungkin sudah pernah di kirim ke milist beasiswa, namun tidak ada salahnya saya rangkumkan kembali, barangkali ada yang membutuhkan

——————————————————————————–

From: Sony S Wibowo

Temans,

Kontak dengn Prof. untuk cari beasiswa S3, khususnya, TETAP merupakan cara yang efektif bahkan paling jitu. Yang penting harus tahu caranya. Tidak bisa, tiba2 saja langsung kirim email yang langsung minta dijadiin studentnya.

Pengalaman saya kontak dengan Prof2 di berbagai belahan dunia, responnya ok. Dan mereka mau menerima menjadi student. Hanya saja, banyak prof. yang tidak punya capabilty untuk masalah fund. Biasanya, untuk ini dia hanya menyarankan untuk cari sendiri atau memberi link2 yang bisa dikontak. Bahkan jika perlu mereka (prof2) bisa mengasih semacam surat ‘personal agreement’ yang bisa dijadiin alat cari dana sekolah. Saya punya ‘koleksi’ surat2 itu. Ada dari Inggris (Nottingham dan Leeds), Swedia (KTH Univ.), Jepang (Hokudai dan … lupa nama univ.), Belanda (TU Delf), dan bahkan AIT. Amerika tidak ada, karena dari dulu tidak ada keinginan sekolah di sana. Anyway, dari list itu, masih tetap efektif kan cari sekolah dengan kontak langsung profnya?

Ini beberapa tips (dari pengalaman sendiri dan orang lain):
1. Pastikan kita di area yang sama dengan prof tersebut. Kenali dulu prof tersebut. Interest dia apa, on going research dia apa, paper2 dia ttg apa saja dll. Lebih bagus lagi kalau ada senior atau teman kita yang bisa kasih informasi ttg dia yang personal.

2. Pahami juga proses penerimaan mhs baru di univ. ybs. Utk univ. amerika, kalau kita bukan yang lagi sekolah di amrik, penerimaanya harus melalui admission, baru stlh diterima kita dapat prof.nya. Di Eropa dan Jepang, bisa secara simultan, kontak admission dan juga kontak prof. Di Belanda, misalnya, tidak ada beasiswa khusus untuk S3. Yang ada proyek penelitian yang dikerjakan prof.2. Jadi kita apply ke Prof. nya untuk ikutan riset dia, sekalian ambil gelar. Pun sama di Belgia, Swedia, Denmark, dan bbrp Univ. di Inggris.
Jepang apalagi. Kalau sudah berhasil ‘mengambil hati’ prof.nya, maka beasiswa Monbusho sudah menunggu. Prof di Jepang bisa mengajukanya untuk kita. Tapi memang tidak mudah untuk ambil hati prof Jepang, dan tidak mungkin hanya dalam satu kali surat.
Cari juga alternatif sumber beasiswa untuk sekolah di tempat prof itu.

3. Siapkan CV kita yang baik, lengkap dengan foto. Masukan hasil2 penelitian yang sudah dan sedang dilakukan, termasuk tugas akhir dan thesis.

Sudah siap semua, baru mulai buat surat.
1. Buatlah surat yang personal. Jangan model lamaran kerja yang masal, tinggal copy-paste nama perusahaannya. Buatlah surat yang memang khusus buat dia. Dia akan tahu ini surat masal atau yang memang khusus buat dia.
2. Jangan langsung minta sekolah. Ceritakan dulu bagaimana kita mengenal dia. Sangat bagus kalau kita katakan mengenal dia dari bekas studentnya.
3. Kemudian ceritakan ttg diri kita, riset kita, interest kita, dan aktivitas akademik kita. Kalau kita punya prestasi menonjol di bidang akademik, tunjukan. Kalau kita lagi sekolah, ceritakan apa yang sedang kita teliti dan rencana ke depannya apa, setelah lulus.
4. Tanyakan kemungkinan untuk sekolah di jurusan dia. Ingat, TANYA KEMUNGKINAN, bukan MINTA.
5. Hati2 dalam pemakaian bahasa. Gunakan bhs Inggris yang formal. Jangan lupa lampirkan CV kita.

Ada buku bagaimana menulis surat spt ini dengan baik.

Dan ingat, (kalau memang serius untuk sekolah lagi) jangan dikerjakan disela2 kesibukan ngajar dan mroyek. Jadikan lah cari sekolah itu proyek, sehingga usaha kita all out.

Terakhir, jangan pernah berputus asa. Tetap mencoba.

Sony

—————————————————————————————-

ini dari Dr.Dhany Arifianto dosen TF ITS
Ph.D bidang Digital Signal Processing dan Teori Informasi
Tokyo Institute of Technology, Jepang

Panduan Mencari Calon Profesor di Jepang

Ini adalah kerjaan awal yang mesti dilakukan sebelum apply beasiswa
manapun. Pemberi beasiswa banyak yang mengharapkan pelamar sudah
mempunyai professor pembimbing, bahkan ada yang mengharuskan punya
professor pembimbing sebelum melamar beasiswa. Cara mencari professor
pembimbing mesti di sesuaikan dengan bidang saudara. Carilah di web
URL universitas – universitas Jepang, meskipun banyak URL Universitas
Jepang yang di tulis dengan tulisan Jepang, tetapi ada banyak juga URL
Universitas Jepang yang di tulis dengan bahasa Inggris.

Selanjutnya setelah mendapatkan URL dan masuk ke web universitas,
silahkan mencari daftar department yang ada di universitas tersebut
dan carilah lab-lab yang ada di department tersebut. Di Jepang, nama
laboratory adalah nama Professornya, seperti Tanaka Laboratory, Suzuki
Laboratory, Kobayashi Laboratory dll. masing-masing laboratory
mempunyai topik research macam macam. Anda bisa menemukan tema riset
yang sedang dikerjakan pada situs lab. tsb. (bila disebutkan secara
spesifik) atau bisa juga melihat daftar publikasinya. Kalau disediakan
online papernya, download dan pelajari isinya apakah memang sesuai
minat, kalau ya coba anda mencoba menulis proposal riset yang ingin
anda kerjakan. Dan disitulah saudara bisa menyesuaikan dengan minat
riset dan bidang riset yang saudara ingin kerjakan nantinya.

Jika saudara sudah merasa cocok dengan riset yang dilakukan di
laboratory tersebut, saudara bisa menulis surat baik lewat e-mail,
surat pos maupun fax ke Professor di lab tersebut. Pekerjaan berat
selanjutnya adalah, saudara mesti harus mempersiapkan bener bener
bahasa yang baik, sopan santun dan grammar yang tepat untuk surat
perkenalan pertama dengan Professor Jepang. Surat perkenalan ini bisa
di tulis dengan bahasa Inggris, jika saudara belum menguasai bahasa
Jepang. Perlu di ingat bahwa orang Jepang adalah orang Timur yang
masih memegang adat dan budaya sopan santun yang tinggi. Hal ini
sangat berbeda sekali dengan orang orang Barat, yang “to the point”.
Saudara mesti hati-hati dalam bersopan santun untuk menulis surat
perkenalan ini. Dalam surat perkenalan pertama, tulislah introduction
tentang saudara, background saudara (seperti layaknya CV, tetapi lebih
mengarah ke history of education, research yang pernah saudara
lakukan, apa yang telah saudara raih dalam research tersebut, dan
research apa yang saudara ingin kerjakan nantinya (yang menjadi impian
saudara). Selanjutnya utarakanlah niat saudara untuk bergabung dengan
laboratory tersebut, saudara berminat untuk mempelajari ini itu (mesti
saudara kemukakan). Bikinlah supaya sang professor tertarik dengan
research yang saudara ingin kerjakan nantinya. Hal ini tidaklah mudah,
bagi orang – orang yang belum terbiasa melakukan riset. Tetapi
bukankah kita semua pernah melakukan riset sewaktu pengerjaan skripsi
/ thesis. E-mail selanjutnya terserah saudara, bagaimana saudara bisa
meyakinkan professor Jepang, supaya beliau bersedia menerima. Pada
dasarnya Professor Jepang tidaklah keberatan untuk menerima saudara,
hanya apakah ada dana atau sponsor jika saudara bergabung ke labnya,
itulah yang sering di tanyakan oleh Professor Jepang, jika anda
mengungkapkan keinginan saudara untuk bergabung dengannya. Untuk yang
sedang akan apply beasiswa – beasiswa non-pemerintah Jepang yang
disediakan oleh foundation/organisasi, company swasta, pemda dll,
(seperti beasiswa Panasonic/matsushita, hitachi, Okazaki, JICA, Inpex
dll, maka saudara bisa mengutarakannya dengan mudah, bahwa saudara
akan test untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di
Jepang.

Selanjutnya saudara butuh rekomendasi dari Professor jepang.
Kebanyakan Professor tidak keberatan pula untuk menuliskan rekomendasi
dan mengirimkannya ke saudara. (surat rekomendasi berisi bahwa
Professor tersebut bersedia menjadi pembimbing, dan professor tsb
interest dengan riset yang saudara ajukan dll), isi dari surat
rekomendasi ini tergantung professor, tidak ada format khusus yang
mensyaratkannya. Professor Jepang, lebih sering menulis surat
rekomendasi ini dalam tulisan tangan (tulisan kanji, yang kita hampir
tidak bisa membacanya, kecuali orang jepang asli). Surat rekomendasi
yang telah saudara dapatkan, bisa saudara lampirkan dalam melamar
berbagai beasiswa yang saudara ingin ikuti. Jika hubungan saudara
dengan Professor sudah sedemikian eratnya, saudara bisa meminta supaya
beliau merekomendasikan saudara ke Monbusho = Depdikbud jepang, (lewat
universitas Professor tersebut).

Informasi tambahan :

Masih banyak Professor Jepang yang tidak lancar berbahasa inggris
sehingga ada kemungkinan surat – surat saudara tidak di balas.
Sebenarnya bisa tetapi untuk membalasnya mereka butuh waktu, sehingga
surat saudara tidak di tanggapi sama sekali.
Untuk Professor yang sangat sibuk sekali, surat surat saudara yang
masuk kadang tidak di tanggapi/tidak di balas. Kalaupun di balas,
entah berapa bulan kemudian. Untuk itu, jikalau belum ada balasan dari
Professor, jangan kuatir, saudara bisa mencoba menulis ke Professor
yang lain. Masih banyak Professor Jepang yang lainnya. Rajin –
rajinlah membuka web web universitas Jepang. Usahakan dalam mencari
professor pembimbing adalah dari Universitas negeri yang daftarnya
terdapat pada, http://www.mext.go.jp/english/sites/colleges.htm Sejak
tahun 2001, beasiswa Monbukagakusho hanya diberikan pada kandidat yang
direkomendasikan oleh Profesor di universitas negeri.

Tips Proposal Riset
Dalam mendekati Profesor di Jepang, salah satu yang ingin diketahuinya
selain prestasi akademik (GPA/IPK), pengalaman, TOEFL dll, adalah apa
yang ingin anda kerjakan bila diterima di labnya. Seperti yang telah
dikemukakan pada halaman panduan beasiswa Monbukagakusho UtoU,
sebaiknya anda pelajari dulu tema riset yang sedang dilakukan di lab.
tsb bila ada. Jika tidak alternatifnya adalah dengan membaca
publikasinya di jurnal maupun pertemuan ilmiah. Bila tidak disediakan
versi elektroniknya (dalam format .pdf atau .ps) anda sebaiknya
menghubungi kakak kelas atau kenalan yang sedang sekolah di luar
negeri atau milis PPI Jepang http://groups.yahoo.com/group/ppi-jepang/
untuk minta tolong download paper Prof. tsb. (dengan menyebutkan
judul, nama jurnal, tahun terbit volume dan halamannya untuk
memudahkan).

Kerangkanya biasanya terdiri dari :

Pengantar : paragraf ini berisi mengenai apa yang telah orang lain
kerjakan/laporkan yang terkait dengan obyek atau tema yang sama.
Misalnya paper A telah melakukan XYZ dengan metode ZYX. Sebutkan yang
benar-benar terkait atau dekat dengan apa yang diteliti. Paper yang
berisi review biasanya kurang tepat karena terlalu luas cakupannya.
Isi : jelaskan sekilas permasalahan dan diikuti dengan hipotesa untuk
memecahkannya. Bisa pula sebelumnya anda beri paparan hasil riset anda
sebelumnya dengan hasilnya. Hipotesanya bila anda terapkan metode
alternatif/modifikasi akan memberikan hasil yang lebih baik. Akan
lebih baik bila anda merujuk metode yang dikembangkan lab. yang
dilamar.
Penutup : Bila bisa sebutkan alasan perkiraan bahwa ide anda tersebut
dapat dilakukan dan hasilnya lebih baik.

Bila telah selesai jangan lupa untuk memeriksa kembali, mungkin ada
salah ketik atau salah alur berfikir mana yang perlu/tidak perlu atau
mana yang lebih dulu. Kalau mungkin, diskusikan dengan pembimbing anda
di Indonesia telebih dahulu. Selain proof-read, mungkin ada tambahan
ide untuk memperkaya proposal anda sebelum anda kirimkan ke Prof. di
Jepang.

Bukan tidak mungkin selama proses komunikasi proposal anda ditolak
atau direvisi oleh Prof. di Jepang. Silakan mencari contoh tulisan
proposal riset di internet dengan search engine.

Tips Wawancara Beasiswa Monbukagakusho G to G
Pertama, saya ingin mengucapkan selamat bila anda termasuk yang
dipanggil untuk wawancara. Tahap ini boleh dibilang yang paling
menentukan diterima apa tidak lamaran anda ke Jepang. Tips ini berlaku
umum untuk wawancara beasiswa lainnya sekalipun khusus untuk
Monbukagakusho.

Berpakaian rapi.
Persiapkan segala kopi dokumen, arsip print-out e-mail dll (bawa
dokumen asli BILA diperlukan/diminta).

Wawancara dilakukan secara bergantian oleh dua orang penanya yang
ditunjuk DitJen Dikti dan Kedubes Jepang yang biasanya memiliki bidang
yang dekat dengan mayoritas pelamar didaerah tsb. Sekedar untuk
diketahui, proses wawancara beasiswa ini dilakukan beranting dari
daerah Indonesia barat sampai timur.

Kecuali anda melamar bidang sastra Jepang, bahasa pengantar selama
wawancara adalah Indonesia dan juga B.Inggris. Hendaknya anda menjawab
pertanyaan dengan bahasa yang sesuai. Artinya bila penanya menggunakan
B.Inggris jawablah dengan B.Inggris pula. Tidak perlu terburu-buru
dalam menjawab, ambil waktu untuk berfikir (jangan terlalu lama,
apalagi penanya sampai melontarkan pertanyaan berikutnya).

Biasanya yang ditanyakan adalah seputar isi dokumen yang anda masukkan
sewaktu melamar beasiswa, porsi paling besar adalah proposal riset dan
pengalaman riset yang pernah anda lakukan. Misalnya mengapa
menggunakan metoda X dan bukan Y ? Ingatlah, bahwa sebenarnya andalah
yang paling menguasai apa yang ditulis, coba menjawab dengan bahasa
yang mudah dimengerti oleh pemula dalam bidang tersebut. Hindari
istilah teknis khusus bila bisa, kalau terpaksa beri penjelasan
singkat artinya. Kalau ada detail yang anda lupa, buka saja file kopi
yang anda bawa dari rumah. Tidak pada tempatnya anda pinjam ke pada
penanya sekalipun file yang dipegangnya berasal dari anda juga. Atau
beralasan lupa maupun tertinggal !

Hindari jawaban-jawaban yang semua orang sudah maklum. Misalnya
“penelitian ini harus dilakukan ditempat lain karena dijurusan saya
tidak ada fasilitas atau tidak ada dana”. Coba ganti dengan yang lebih
elegan misalnya “saya berminat ke lab. Prof YY karena dia sedang
mengembangkan metode baru yang lebih baik dari yang saya peroleh”,
kalau bisa diperinci akan lebih baik. Tapi harap tetap diingat, jangan
bertele-tele sehingga terkesan ingin mengulur waktu.

Jangan coba berbohong atau mengatakan sesuatu yang tidak pernah anda
lakukan tanpa menyebutkan sumbernya. Pewawancara biasanya memiliki
cara untuk mendeteksinya.

Semoga sukses.



4 Responses  
  • warsidi writes:
    June 30th, 20104:53 pmat

    how to continue study in S2 and get scholarship? I really want to get it. give me the information please.

    ans:
    There are a lot of ways to get it, but at least there are two steps:
    firstly, you have to collect all information regarding scholarships. you can joint several mailing list such as mailist beasiswa or others. You will know what scholarships you want to apply.
    Secondly, you have to make a plan how to achieved.
    Then,
    If you want to apply Master program in Indonesia, you can apply for BPPS Scholarships.
    If you want to study abroad and you are UGM or ITB alumnae, you can apply seed net scholarships, if you ain`t alumnae one of them you can apply Monbuka Gakusho Scholarships, INPEX Scholarships, ADS Scholarships, Taiwan, Malaysia and many others.
    FYI,
    There are a lot of scholarships, you just have to know where is it and how to get it, then work hard for it.
    when there is a will, there is way

    good luck

  • nina permata sari writes:
    August 21st, 20104:47 amat

    bagaimana dengan seseorang yang hanya lulusan diploma ? adakah kesempatan untuk mendapatkan kesempatan beasiswa s1 atau beasiswa non gelar seperti training/kursus ke luar negeri atau yang di dalam negeri ?
    mohon bantuan informasinya dan terimakasih atas perhatiannya .


    Untuk yang lulusan diploma, biasanya beasiswa dari perusahaan tempat nya bekerja, beberapa kali JTETI/DTE UGM mengadakan kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti PLN atau TELKOM untuk studi lanjut karyawan dari SMA/STM ke D3, D3 ke S1 dan S1 ke S2.
    Beasiswa yang saya tahu untuk D3 ke D4 ada di program D4 TKJ di ITB, beberapa alumni D3 TE UGM berhasil mendapatkan beasiswa tersebut untuk lanjut ke D4.
    bisa juga mencari sendiri beasiswa ke LN, Ada teman saya dari D3, dia mengirim ntah berapa ratus surat/email ke Profesor di Jepang dan akhirnya ada satu Profesor yang bersedia memberi beasiswa, dan memang hanya satu yang dia perlukan, sekitar 4 tahun kemudian dia sudah menjadi Doktor dengan beasiswa tsb.
    Kalau ada kemauan pasti ada jalan, kata pepatah arab, Man jadda wa jadda, siapa yg bersungguh-sungguh dia akan berhasil.

  • Lie writes:
    October 10th, 20108:40 amat

    Bagaimana apabila nilai IPK biasa-biasa saja.. Mungkin hanya berkisar 2,3 dari range 4.
    Apakah baik tidaknya IPK sangatlah menentukan untuk mendapatkan beasiswa tersebut? atau skripsi dan riset yang akan kita ambil nantinya yang lebih menentukan?

    Menurut pengamatan saya, itu tergantung dari beasiswa apa yang kita lamar dan bagaimana tingkat persaingannya.
    Kalau beasiswa berbentuk kerjasama dengan institusi, biasanya IPK berapapun asalkan yang dikirim oleh institusi akan diterima, tetapi sering juga ada IPK minimal, untuk menjaga kualitas input mahasiswa. kenapa memakai IPK, karena menurut saya IPK itu saringan yang paling mudah dan murah.
    Kemudian kalau beasiswa nya jarang peminatnya alias persaingannya kecil, pelamar hanya sedikit tetapi slot beasiswa ada banyak, bisa juga IPK segitu.
    Namun paling menentukan sebenarnya menurut saya adalah Calon Profesor kita. IPK itu digunakan sebagai Filter karena profesor tidak tahu kapasitas si calon secara langsung, apa mampu menyelesaikan perkuliahan, secara statistik tentu yang IPK tinggi lebih besar peluangnya menyelesaikan studi lanjutnya dengan baik, sehingga tujuan pemberi beasiswa tercapai.
    nah kalau si Profesor sudah kenal dekat si calon, maka beasiswa bisa beliau usahakan, kalaupun tersandung urusan administratif IPK minimal, mungkin bisa beliau pekerjakan sebagai asisten riset (RA) atau asistan mengajar (TA). Bisa juga profesor percaya kemampuan si calon karena direkomendasikan seseorang yang sangat dekat dan dipercayai di profesor, seperti mantan muridnya yang berprestasi, sehingga akan diusahakan mendapat beasiswa.
    kendalanya IPK segitu:
    1. seseorang memberi rekomendasi juga tidak akan asala-asalan, dengan IPK segitu apa dia mau memberi rekomendasi, karena mempertaruhkan nama dan kepercayaan.
    2. Bila tidak ada institusi yg mengirim, atau bila tidak ada kerjasama institusi, atau institusi ada kerjasama tapi peminat beasiswa membludak alias persaingan ketat, maka peluang yang IPK segitu kecil.

    untuk mendapatkan kepercayaan dari calon pembimbing, maka yang paling menentukan adalaj prestasi kita. kalau IPK kecil tapi banyak paper atau patent yang berhasil kita terbitkan itu akan mebuat pembimbing dan pemberi beasiswa percaya kemampuan kita. kalau hanya rencana riset, itu belum menunjukkan kemampuan kita.

    jadi intinya tunjukkan bahwa kita execellen, bahwa kta lebih dari yang lain, kalau IPK kecil (2.3), alias sudah terlanjur segitu, dan tidak ada prestasi lainnya, bisa dengan studi S2 dalam negri dulu (kalau di Univ yg cukup dikenal) dengan biaya sendiri untuk memperbaiki IPK dan membuat paper sebanyak mungkin, sehingga bisa meyakinkan pemberi beasiswa, meyakinkan Profesor dan memenangkan persaingan untuk beasiswa ke S3.

    semoga sukses

  • larasfadillah writes:
    October 19th, 201212:54 amat

    mas, saya mhs tingkat akhir, dan sekarang sedang persiapan untuk mencari-cari beasiswa s2 ke luar negeri. membaca email dari pak sonny saya sangat tertarik. Saya mau meminta koleksi surat2nya untuk dijadikan referensi. bagaimana cara menghubunginya ya?


    Pak Sony bisa dihubungi lewat FBnya di sini


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


8 × = thirty two

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
- valtrex buy online no prescription - where to buy asacol - cell spy phone - levitra buy -